Home » , » Di Ambang Kelahiran “Bedah Cesar” Suriah Baru

Di Ambang Kelahiran “Bedah Cesar” Suriah Baru

Written By DPC Pkskedungkandang on Friday, December 7, 2012 | 7:23 PM

Oleh: Musthafa Luthfi*

IBARAT bayi, kelahiran 'Suriah baru' pertanda berakhirnya pemerintahan otoriter rezim Assad ayah (Hafez Assad) dan anak (Bashar Assad) tidak berlangsung alami, akan tetapi lewat bedah cesar yang sangat berdarah-darah. Apabila Bashar Assad nekad menggunakan senjata kimia, bisa jadi bedah cesar itu akan menyebabkan kematian sang ibu alias menimbulkan petaka kehancuran bagi ibu pertiwi Suriah sebagai pengorbanan lahirnya era baru. 

Petaka tersebut bukan hanya sekedar korban jiwa dan materi yang sangat dahsyat, akan tetapi campur tangan asing (terutama negara-negara Barat) secara militer baik langsung maupun tidak langsung. Campur tangan Barat dalam kelahiran Suriah baru dipastikan akan berdampak bagi independensi negeri Syam itu untuk jangka panjang mendatang.

Karenanya, meskipun milisi oposisi anti Assad terutama dari unsur Tentara Kebebasan (al-Jeish al-Hurr) sudah berada di ambang pintu masuk ibu kota Damaskus, bayang-bayang mengerikan masih menghantui rakyat negeri itu. Pasalnya, mereka sangat mafhum siapa rezim Assad yang dikenal tidak mudah menyerah bahkan selalu siap meluluhlantahkan negerinya demi mempertahankan kekuasaan.

Bayang-bayang mengerikan itu sangat berasalan sebab pada awal-awal unjukrasa damai rakyat yang menuntut perubahan, rezim Assad meresponnya sebagai perang eksistensi bagi rezim dan pemusnahan bagi musuh. Rakyat yang menuntut perubahan secara damai dianggap musuh dengan mengecap mereka teroris yang harus dimusnahkan.

Apalagi dalam kondisi terdesak saat ini tidak menutup kemungkinan perinsip “imma qaatil imma maqtuul” (kita membunuh atau kita terbunuh) akan dikedapankan untuk mempertahankan kekuasaan hingga titik darah penghabisan. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa rezim Assad telah mengenyampingkan sensitivitas akhlak dan tanggung jawab kemanusiaan seolah-olah warga yang menentangnya adalah binatang bukan jenis manusia.

Kekhawatiran masyarakat internasional akan kemungkinan Assad menggunakan senjata pamungkas kimia, pada tempatnya, sebab rezim ini tidak jauh beda dengan rezim Saddam Husein (sama-sama dari partai sosialis Ba`ats yang terkenal pantang menyerah). Kita masih teringat bagaimana Saddam menggunakan senjata kimia atas suku Kurdi pada tahun 80-an abad lalu, hanya untungnya saat itu Saddam sedang "berbulan madu" dengan Barat.

Bulan madu Saddam tersebut menyelamatkannya dari tuntutan internasional, namun hubungan erat itu berakhir juga dengan invasi yang dilakukannya atas Kuwait pada Agustus 1990. Barat pun mengungkit kembali serangan senjata kimia atas suku Kurdi dan keberadaan senjata kimia (meskipun telah dimusnahkan semua) sebagai salah satu alasan AS dan sekutunya untuk menduduki negeri Babilonia itu sejak April 2003.

Aksi "tolol" Saddam atas suku Kurdi itu, bisa saja diulangi lagi oleh Assad karena hingga saat ini tidak ada alasan logis yang dikedepankan rezim yang dapat meyakinkan masyarakat internasional untuk terus melanjutkan pembantaian atas rakyatnya sendiri yang telah menelan korban jiwa lebih dari 40 ribu dan ratusan ribu lainnya luka-luka. Belum lagi jutaan rakyat negeri itu kehilangan tempat tinggal hingga terpaksa mengungsi ke negara-negara sekitar.

Hingga hampir genap dua tahun sudah kelanjutan pembantaian tak beradab tersebut dan rezim masih berusaha memaksakan rakyat untuk tetap tunduk adalah suatu yang hampir mustahil diterima. Kejatuhan rezim hampir dipastikan tinggal menunggu waktu dengan semakin mendekatnya pasukan anti rezim ke pintu gerbang Damaskus.

Hingga tulisan ini diturunkan, pertempuran sengit antara pasukan rezim dengan kubu revolusi terus berlanjut untuk memperebutkan bandara internasional Damskus. Pada Kamis (06/12/2012), kubu revolusi dan oposisi juga mengumumkan penguasaan sebagian besar pangkalan pertahanan udara di Damaskus yang menyebabkan semangat juang pasukan pro rezim semakin mengendor dan kubu-kubu pertahanan semakin diperbanyak di sekitar istana Assad.

Hampir semua ancaman yang telah dilontarkan sebelumnya telah dilakukan rezim, sehinga tinggal satu ancaman lagi yang belum dilaksanakan yakni kemungkinan penggunaan senjata kimia sebagai senjata pamungkas sebelum kejatuhannya. Meskipun AS dan Eropa memperingatkan akibat yang akan ditanggung rezim atas penggunaan senjata terlarang internasional itu, namun tetap tidak menutup kemungkinan untuk menggunakannya bila terdesak oleh kepungan Tentara Kebebasan saat ini.

Dramatik

Kemajuan pesat yang dicapai Tentara Kebebasan telah menimbulkan kepanikan di kalangan militer maupun pejabat tinggi sipil yang masih loyal terhadap Assad sehingga jarang sekali terdengar lagi suara mereka yang selama ini merasa percaya diri dapat mengatasi perlawanan kubu revolusi. Sungguh di luar dugaan, bulan November lalu merupakan bulan perubahan sangat penting dan dramatik krisis Suriah.

Menurut sejumlah analis militer, perubahan dramatik tersebut diantaranya disebabkan perubahan strategi yang dilakukan Tentara Kebebasan dengan melakukan pembersihan atas kantong-kantong militer loyalis Assad di sekitar Damaskus. Dengan pembersihan kantong-kantong tersebut sedikit-demi sedikit, mereka berhasil mendekat ke lokasi menuju Istana Republik.

Sebagaimana diketahui kantong-kantong pertahanan sekitar Damaskus dengan berbagai jenis senjata dan unit personil untuk mengamankan rezim, oleh banyak pengamat dinilai paling banyak dibandingkan ibu kota negara lainnya di dunia. Sebenarnya dengan kejatuhan daerah Halab (Aleppo) dan Homs di tangan pasukan anti rezim, sudah menjadi isyarat lampu merah kejatuhan rezim.

Perubahan strategi penting lainnya yang menyebabkan prubahan drastis tersebut adalah kemampuan pasukan revolusi menetralisir sebagian besar senjata rezim yang jauh unggul dibandingkan tentara revolusi. Diantara cara yang ditempuh untuk melumpuhkan keunggulan pasukan rezim adalah dengan melakukan perang jarak dekat dan menguasai senjata-senjata efektif milik rezim, terutama pertahanan udara.

Sejumlah pengamat militer setengah memastikan bahwa pasukan revolusi telah sukses melumpuhkan serangan tank dan pesawat-pesawat tempur rezim sehingga satu-satunya senjata yang masih digunakan untuk membantai warga adalah roket. "Petinggi militer rezim telah membaca bahwa pasukan rezim telah terpancing strategi perang yang dilakukan pasukan revolusi sehingga mereka merasa tidak mungkin memenangi pertempuran," papar sejumlah pengamat.

Namun di lain pihak, pasukan revolusi juga sadar bahwa kemajuan di lapangan yang mereka capai hingga mendekati pintu gerbang ibu kota Damaskus bisa saja semakin memotivasi rezim untuk menggunakan senjata pamungkas kimia. Kubu revolusi dan oposisi sangat faham akan tendensi "bunuh diri" rezim bila merasa nasibnya telah berada di ujung tanduk.

Kemajuan secara militer di lapangan ini, juga dibarengi pula "kemajuan" secara politis dengan terbentuknya al-I`tilaaf al-Wathani Liquwa al-Thawra wa al-Mu`aradhah al-Suriyah (Koalisi Nasional Kekuatan Revolusi dan Oposisi Suriah) pada 12 November lalu. Meskipun

terbentuknya koalisi ini atas desakan regional dan internasional, namun untuk jangka pendek cukup membantu mempersatukan faksi-faksi revolusi dan oposisi menghadapi rezim.

Terbentuknya koalisi tersebut juga semakin membersitkan sikap optimis faksi-faksi yang berjuang di lapangan sehingga mampu memompa semangat juang menghadapi pasukan rezim karena akhirnya mendapat legitimasi di dalam negeri dari rakyat yang sebagian besar menentang rezim. Selain itu, juga legitimasi regional dan internasional yang diperlukan untuk menghadapi fase pasca Assad.

Tidak berlebihan ungkapan yang disampaikan beberapa analis Arab bahwa kubu revolusi dan oposisi dalam beberapa hari belakangan ini sedang merampungkan penulisan episode terakhir revolusi. Di lain pihak, Assad digambarkan sedang menikmati hari-hari terakhir di tampuk pemerintahan negeri Syam itu yang diwarisi dari ayahnya.

Tanda tanya

Hanya yang masih menjadi kekhawatiran terkait kelahiran Suriah baru sebagaimana disebutkan diatas adalah bagaimana proses hengkangnya Assad meninggalkan istananya. Akankah menuju pengasingan seperti pendahulunya mantan Presiden Tunisia, Zainal Abidin Ben Ali atau mengikuti jejak mantan penguasa Libya, Muammar Qadhafi.

Bila menuju pengasingan belum ada negara yang menyatakan kesediaan menerimanya bahkan Sekjen PBB, Ban Ki-moon menyatakan pendapat pribadi Rabu (05/12/2012) bahwa ia tidak setuju bila Assad mendapat kekebalan hukum atau menerima suaka politik. Bila mengikuti jejak Kaddafi, apakah akan mempertahankan diri sampai titik darah penghabisan dengan senjata konvensional saja atau terpaksa menggunakan senjata pamungkas kimia.

Berbagai tanda tanya besar yang muncul tentang bagaimana proses kelahiran Suriah baru itu adalah sebagai bentuk kekhawatiran rakyat negeri itu dan negara-negara kawasan terhadap sikap ``nekad`` Assad menjelang kejatuhannya. Karenanya, banyak pihak mendesak segera dilakukan langkah cepat internasional sebagai jaminan tidak meledakknya Suriah pasca Assad.

Langkah cepat yang dimaksud adalah pengiriman segera pasukan internasional sebagaimana yang diusulkan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi. "Tanpa keberadaan internasional pada proses kejatuhan Assad dan saat kejatuhannya, maka akibatnya akan sangat mengerikan," papar salah seorang analis Arab.

Boleh jadi peringatan dari analis tersebut banyak benarnya menyusul laporan tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia oleh Assad menghadapi pasukan revolusi.

Keberadaan pasukan internasional meskipun di belakang hari berdampak terhadap kedaulatan penuh Suriah baru, tetap dibutuhkan agar proses berakhirnya rezim Assad sesuai prediksi dan rencana sehingga tidak terjadi malapetaka yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan.

Terlepas dari berbagai sisi negatif yang dihadapi Suriah atas intervensi internasional (bila terjadi) untuk menghindari kemungkinan penggunaan senjata kimia, namun itu pilihan buruk dari yang terburuk dalam proses kelahiran Suriah baru. Harapan rakyat negeri itu dan publik Arab umumnya, Assad tidak "nekad" menggunakan senjata kimia, sehingga proses kejatuhannya tidak menimbulkan malapetaka dahsyat di kawasan. [hidayatullah]

Sana`a, 23 Muharram 1434 H

*Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN | PKS Tegal | PKS Magelang | PKS Jaktim | PKS Pontianak | PKS Sumut | MBO indonesia | Caksub
Copyright © 2013. PKS Kedungkandang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger