Home » , » Perempuan yang Mengukir Matahari

Perempuan yang Mengukir Matahari

Written By DPC Pkskedungkandang on Saturday, April 21, 2012 | 1:01 AM

Oleh Asma Nadia

Perempuan yang mengukir matahari
Hadir di setiap zaman
Tak ada niat menjadi pahlawan
Tapi, agar terjaga keseimbangan

Beberapa pembaca bertanya, mengapa saya tidak bosan mengangkat tema pernikahan dengan lebih banyak cerita kesedihan di dalamnya. Tak ada maksud membuat sesama perempuan, apalagi yang belum menikah, menjadi takut memasuki gerbang pernikahan. Tidak juga ingin membuat tafsir yang sama tentang semua lakilaki sebab saya percaya ada banyak laki-laki baik di sekitar kita.

Saya hanya melihat betapa penting bagi setiap perempuan untuk membangun kesiapan di berbagai sisi. Khususnya, sete lah menjadi ibu ketika tanggung jawab tak lagi hanya untuk diri sendiri.

Anak-anak yang Allah hadiahkan membutuhkan sosok ibu yang kuat untuk bersandar. Ibu yang memiliki wawasan saat mereka bertanya. Juga ibu dengan keimanan mapan hingga tak pernah kehilangan kesabaran dan harapan, bahkan saat hidup terasa begitu mencekik.

Tetapi, bukan hanya itu yang diperlukan buah hati kita. Ananda juga membutuhkan seorang ibu yang memiliki kecerdasan dan kreativitas finansial. Bukan semata upaya sedia payung sebelum hujan jika suami lupa diri karena perempuan lain.

Hidup dengan berbagai rahasia dan kejutannya bisa saja menghadirkan takdir berbeda. Saat suami terpaksa melimpahkan tanggung jawab ekonomi, baik sedikit maupun banyak, kepada istrinya. Pemutusan hubungan kerja, tumpukan utang, kegagalan bisnis, atau karena alasan lain, seperti mengalami kecelakaan, sakit, atau jika tiba masanya Allah SWT menunjukkan kasih sayang dengan cara memanggil kepala keluarga lebih dulu.

Peristiwa yang melahirkan kecemasan tersendiri setiap mendengar kabar seorang ayah telah pergi. Berapa anaknya? Apakah istrinya bekerja atau memiliki usaha? Jika si istri ternyata tak bekerja maka bagaimanakah nasib keluarga tersebut? Akankah mereka menjadi janda dan anak-anak yatim yang tak punya pilihan, kecuali berharap kemurahan hati masyarakat sekitar?

Seorang ibu wajib memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya saat sang ayah tak bisa lagi berperan.

Jangan tunggu hingga segalanya terlambat. Jika para bunda saat ini memiliki waktu fesbukan, twitter, dan BBM-an, masih tidur delapan jam sehari, investasikan waktu untuk hal-hal yang lebih produktif. Dengan perkembangan teknologi saat ini, terbuka banyak ruang mendapatkan penghasilan, bahkan tanpa harus meninggalkan rumah.

Idealnya, para ayah yang peduli turut menyiapkan istri mereka untuk menghadapi kemungkinan buruk dalam hidup. Aktif menambah wawasan istri, membelikan buku-buku yang menguatkan, menjajaki potensi, lalu mendampinginya memulai usaha sekalipun kecil-kecilan. Selain tentu saja mendekatkan perempuan yang mereka cintai kepada Allah hingga jika pun harus mengalami kepergian sosok tercinta, tak sampai membuatnya kehilangan alasan hidup atau akal sehat.

“Saat suami meninggal, hancur hati saya, Mbak. Apalagi, dia tidak pernah sakit. Tapi, apa jadinya anakanak jika ibunya terus menangis?“ Kalimat Diah, ibu dari tiga anak, yang kini sehari-hari menjadi sopir taksi itu membuat saya kian tercenung.

Kehidupan sempurnanya sebagai istri seorang kontraktor sukses di mana materi awalnya berlimpah dengan cepat berubah. “Namanya uang, Mbak. Kalau didiamkan ya ha bis juga. Untung suami dulu sempat menyuruh saya belajar menyetir,“ paparnya.

Dan, Diah tidak sendiri melakoni kerasnya kehidupan setelah menjadi orang tua tunggal. Ada banyak kisah lain. Pertengahan tahun lalu, saya juga membaca tentang Komalasari, seorang Muslimah berkerudung, yang setelah suaminya berpulang, harus menghidupi keempat anaknya yang masih kecil-kecil dengan mencari sampah yang masih bisa didaur ulang. Menarik keempat anaknya dalam gerobak hingga larut malam.

Selain Komalasari, ada banyak perempuan perkasa yang menjadi kondektur bus, tukang parkir, tukang tambal ban, cleaning service, dan pekerjaan kasar lain. Bukan atas nama emansipasi, melainkan untuk alasan lain yang lebih mulia. Tanggung jawab. Demi keluarga, demi anak-anak.

Mereka adalah potret yang menyimpan banyak pelajaran. Rasa syukur atas berbagai kemudahan yang masih kita nikmati, juga motivasi. Sebab, ketidaktahuan akan takdir pada masa depan seharusnya membangunkan para istri untuk sesegera mungkin bersiap. Hingga betapa pun mendung menyelimuti, setiap bunda sanggup menghadirkan untuk anak-anaknya, matahari. []


*REPUBLIKA (21/4/12)



___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN | PKS Tegal | PKS Magelang | PKS Jaktim | PKS Pontianak | PKS Sumut | MBO indonesia | Caksub
Copyright © 2013. PKS Kedungkandang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger